Selasa, 07 September 2010
 

[ Jum'at, 30 Juli 2010 ]
Daylight Upaya Hemat Energi
BELAKANGAN, makin banyak pemilik rumah yang mendesain hunian mereka dengan konsep green design. Desain tersebut ramah lingkungan. Desain itu meminimalkan penggunaan daya listrik untuk pendingin ruangan maupun pemakaian lampu (artificial lighting). Biasanya, langkah yang ditempuh adalah memaksimalkan pencahayaan alami (daylight) ketika siang.

Ada beberapa macam sumber pencahayaan alami yang bisa dimanfaatkan. Yang paling sering dipakai adalah jendela. ''Agar maksimal, letakkan jendela di dekat dinding berwarna terang supaya cahaya yang datang bisa dipantulkan,'' kata Maria Yohana Susan, praktisi desain interior di Surabaya. Intensitas cahaya yang masuk bisa diatur dari jenis kaca dengan bantuan vitrase serta gorden.

Biasanya, jendela di dinding diletakkan setinggi 80 sentimeter dari lantai. Ada pula jendela yang diletakkan setinggi 1,5 meter dari lantai. Cara itu disebut clerestory windows. Peletakannya memberikan keuntungan lebih besar jika dibandingkan dengan jendela biasa. Yakni, mengurangi cahaya langsung, membuat cahaya lebih soft dan menyebar, serta mengurangi munculnya bayangan. ''Semua tetap disesuaikan dengan selera penghuni, lebih suka yang mana,'' jelas alumnus Teknik Arsitektur UK Petra Surabaya tersebut.

Sumber lainnya adalah skylight. Itu merupakan jendela yang berbentuk vertikal, horizontal, maupun menyerupai kubah. Skylight terletak di atap bangunan. Bila dibandingkan dengan jendela di dinding, skylight menyuplai lebih banyak cahaya. Distribusi cahaya ke ruangan juga lebih merata. Umumnya, luas yang dimanfaatkan untuk skylight sekitar 4-8 persen di antara luas ruangan.

Kendati demikian, ada beberapa masalah yang biasanya dihadapi jika menggunakan skylight sebagai sumber cahaya alami. Panas yang diterima sama banyaknya dengan cahaya alami yang diterima. Penggunaan bahan khusus, seperti white-translucent acrylic, dapat mengurangi beban panas tersebut. ''Masalah lainnya adalah kebocoran jika konstruksinya kurang baik,'' tutur Maria.

Kadang-kadang, ada penghuni yang ingin sedikit ekstrem. Yakni, mengganti dinding bata dengan kaca. Karena itu, cahaya yang masuk ke dalam ruangan, sama banyaknya dengan yang ada di luar. Namun dengan alasan keamanan, dinding kaca kerap dipasang di bagian belakang atau samping rumah. ''Di depan di kasih taman. Jadi, efek estetikanya lebih terasa,'' terang perempuan 30 tahun tersebut.

Dengan pertimbangan fungsi, jenis kaca untuk dinding berbeda dengan jendela. Kaca untuk dinding biasanya berjenis tempered dengan ketebalan minimal 12 mm. Menurut Susan, teknologi konstruksi saat ini memungkinkan penggunaan kaca di seluruh dinding. ''Tapi kalau di Surabaya, bisa-bisa gosong,'' kata Susan lantas tertawa. Sering, kaca dipadukan dengan bahan stainless steel untuk mereka yang suka terlihat modern. (any/c12/nda)