Sabtu, 11 September 2010
 
[ Kamis, 09 September 2010 ]
Mudik Jangan Lama-Lama
Oleh: Leak Kustiya, Pemred Jawa Pos

Setelah dua kali Idul Fitri tak mudik, kali ini saya menjadi bagian dari jutaan orang yang hanyut ingin menengok kampung halaman dengan segenap emosi dan kerinduan. Seperti biasanya, Lebaran selalu diwarnai dengan padatnya ruas-ruas jalan oleh berjuta perantau yang sedang rindu berat dengan daerah asal.

Saking demamnya, anak saya sudah menata oleh-oleh di bagasi mobil sejak seminggu lalu. Tapi, kue kering yang hendak dibagi-bagi buat para kerabat di desa itu harus dikeluarkan lagi dari bagasi karena mobil belum diservis dan musti dimasukkan bengkel dulu sebelum dipakai menempuh perjalanan menuju kampung nan jauh.

Mobilitas kota-desa yang begitu besar setiap kali datang hari raya Lebaran sesungguhnya merupakan cermin betapa besar jumlah warga kota yang ''palsu''. Orang kota tapi sejatinya ''asli'' desa. Kata asli dalam konteks ini begitu hebatnya, hingga ketika datang hari raya Lebaran seperti sekarang, orang-orang kota macam itu akan sulit menyembunyikan keasliannya.

Mereka tinggalkan rumah seisinya, medan seberat apa pun akan ditempuh, asal badan bisa sampai ke kampung halaman. Berdiri di kereta api sepanjang malam dari Stasiun Kereta Api Pasar Senen hingga Stasiun Pasar Turi pun akan dijalani. Asal bisa ketemu dengan sanak famili.

Saya termasuk jenis orang kota yang kampungan sesungguh-sungguhnya. Yang jika ditanya ''kampung aslinya mana?'' jadi males menjelaskannya. Ndeso banget di Jawa Tengah sana, hingga buat orang kota seperti Surabaya, meski diterangkan panjang lebar, tetap saja susah membayangkan lokasinya di mana. Jalan di kampung tempat saya dilahirkan bahkan belum kenal aspal hingga hari ini dan baru ada neon (begitu biasanya orang di kampung saya menyebut listrik) beberapa tahun lalu.

Tapi, ketika datang Lebaran, se-katrok apa pun tempat kelahiran kita, ia adalah eksotika belaka. Pulang kampung adalah keindahan imajiner yang setahun sekali mencuat di antara kesibukan dan keruwetan kehidupan kita sebagai penghuni kota. Tetangga, kerabat, dan teman-teman bermain waktu kanak-kanak dulu, dalam angan, mereka berkelebatan kembali. Semua seperti ingin dikunjungi dan ditemui. Seperti apa mereka sekarang...

Romantisme keindahan masa lalu itu begitu agresif menghasut siapa pun untuk pulang kampung pada hari Lebaran, tapi dengan catatan: jangan lama-lama. Sebab, kalau terus-terusan di kampung, anak-istri kita makan apa?

Ketika mudik Lebaran tiga tahun lalu, dua anak saya girang luar biasa. Tertawa-tawa merasakan mobil yang kami kendarai terperosok di jalan berlumpur dan selip berkali-kali. Celakanya, begitu malam tiba, anak-anak sudah merengek minta pulang lagi ke Surabaya karena tak kerasan berada di tempat neneknya. ''Takut. Rumahnya gelap dan horor,'' katanya.

Sebagai orang tua kota yang datang dari desa, ternyata diam-diam saya juga ketularan virus ''sok kota''. Sok tidak betah berlama-lama di desa, sok lupa kampung halaman, dan malas mudik Lebaran setelah bertahun-tahun tinggal di kota. Indikasi bahwa virus ''sok kota'' itu kian hari kian parah sebenarnya sudah saya rasakan agak lama.

Kepada dua orang tua ketika sedang berkunjung ke rumah untuk menengok cucunya atau sekadar menelepon, misalnya, tanpa sadar saya sering mengulang-ulang pertanyaan: Sekarang lagi musim apa? Atau, sedang panen apa? Padahal, sebagai anak petani, ketidakpahaman terhadap apa yang sedang ditanam orang tuanya di sawah sungguh merupakan pelanggaran etika berat yang sulit diterima.

Lebaran, meski tradisional dan kita sesungguhnya telah berada di era digital, selalu saja mampu memberikan kenangan yang berbeda-beda bagi siapa saja. Berbeda dari dua Lebaran sebelumnya, yang saya rayakan bersama anak-anak yang kurang paham desa itu sambil berlibur, kali ini rasanya memang harus pulang kampung.

Ibu saya yang makin renta sebulan yang lalu menengok cucunya dengan membawa kabar indah. Pohon mangga di belakang rumah sekarang ini sedang berbuah amat lebat. ''Kamu harus memetiknya saat Lebaran nanti,'' kata ibu saya kepada anak-anak.

Saya tahu, itu adalah provokasi nenek lewat cucu agar anaknya yang kini tinggal di kota tidak melupakan tradisi pulang kampung dan meminta maaf kepada orang tua yang telah melahirkan serta membe­sar­kannya, dulu. Yah, minimal setahun sekali. Selamat Lebaran, maaf lahir batin... (*)