[ Selasa, 07 September 2010 ]
Isolasi Pasien Positif Difteri
Sangat Menular dan Rawan Komplikasi
KETIKA anak mengeluh demam, nyeri pada tenggorok, dan sakit kalau menelan, orang tua kerap beranggapan bahwa itu cuma radang tenggorok biasa. Karena itu, buah hati hanya diberi obat penurun panas dan pilek.
Bila selama tiga hari keluhan tersebut tak kunjung berkurang, sebaiknya anak segera dibawa ke dokter. Sebab, ada kemungkinan anak menderita difteri. Yakni, infeksi yang disebabkan kuman Corynebacterium diphtheriae. Biasanya, penyakit tersebut menyerang saluran pernapasan, terutama laring, amandel, dan tenggorok. "Gejalanya memang mirip dengan pilek biasa. Yang menjadi pertanda khas difteri adalah munculnya selaput putih yang menutupi bagian tubuh yang diserang. Itulah yang dinamakan pseudomembran," kata dr E. Lisa Anggraeny SpA.
Untuk menegakkan diagnosis, digunakan biakan kuman yang positif. Namun, bila gejala-gejala tersebut muncul dan ditemukan pseudomembran, penderita harus dirawat sebagai pasien difteri. "Pengobatannya tidak menunggu biakan. Namun, harus dilakukan dengan segera untuk mencegah berbagai komplikasi," lanjut spesialis anak dari RS Adi Husada Kapasari itu.
Sebab, pseudomembran bisa berakibat penyempitan saluran udara. Bisa juga secara tiba-tiba pseudomembran terlepas dan menyumbat saluran udara. Jika bakteri melepaskan toksin, pembuatan protein sel bisa terhambat. Dengan begitu, sel bisa mati. Selanjutnya, pada tempat menempelnya kuman, terjadi kerusakan jaringan. "Racun yang disebut eksotoksin itu berbahaya karena bisa menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah," tutur Lisa.
Komplikasi penyakit tersebut bisa mengenai semua sistem tubuh. Pada saluran napas, penyakit itu berdampak berbagai gangguan pada paru. Infeksi tersebut bisa juga berkomplikasi pada jantung. Yakni, terjadi infeksi otot jantung yang disebut miokarditis. Selain itu, difteri bisa mengakibatkan komplikasi pada sususan saraf pusat. "Kebanyakan kematian yang muncul gara-gara difteri disebabkan gagal jantung," terang dokter lulusan FK Unair tersebut.
Pasien difteri mesti menjalani rawat inap dan diisolasi. Sebab, penyakit itu sangat infeksius atau mudah menular. "Bakteri menyebar melalui udara, percikan ludah ketika penderita batuk, maupun makanan yang telah terkontaminasi bakteri," ungkap Lisa.
Tak heran, bila tak tertangani dengan tuntas, difteri bisa meluas pada daerah tertentu. "Terutama, orang-orang yang belum diimunisasi dan berdaya tahan tubuh lemah," ujarnya. Proses isolasi itu diberlakukan sampai didapatkan hasil negatif pada biakan kuman. (ai/c11/nda)