[ Minggu, 06 Juni 2010 ]
Fitradjaja Purnama setelah Kalah dalam Pemilihan Wali Kota
Tetap Terobsesi Menjadi Calon Presiden
Gagal meraih kursi wali kota Surabaya tak membuat Fitradjaja Purnama kehilangan kepercayaan diri. Pria yang maju dalam pemilihan wali kota (pilwali) dari jalur independen itu bahkan memiliki obsesi lebih besar, yakni menjadi calon presiden.
ANGGIT SATRIYO NUGROHO
---
Meski kalah dalam pilwali, wajah Fitra (sapaan Fitradjaja Purnama) tak terlihat murung. Dia tetap tampil bersahaja. Bicaranya tetap saja blak-blakan. Saat diajak bicara, obrolan yang disampaikan tetap menyenangkan lawan bicaranya. "Kalah itu hal biasa. Sama seperti saat ini, sama sekali saya tidak murung. Biasa saja, tak ada yang berbeda dengan yang dulu kan?" jelas Fitra saat ditemui di rumahnya Jumat (4/6).
Ya, upaya Fitra menghimpun warga nonpartisan untuk mengantarnya ke kursi wali kota saat ini kandas. Sejumlah penghitungan cepat (quick count) menempatkan Fitra dan pasangannya, Naen Soeryono, di posisi buncit. Suara Fitra hanya sekitar 6 persen.
Fitra pun mengakui kekalahan dengan lapang dada. "Ya, suara independen harus diakui memang sebesar itu. Tak ada yang perlu dirisaukan lagi," ucapnya.
Meski demikian, Fitra tak akan melupakan para pendukungnya di beberapa basis pemilihan selama ini. Di antaranya di Perak Barat, Made, dan Ngagel Rejo. Di wilayah itu suara Fitra mengungguli pasangan lainnya. "Para pendukung semuanya tetap kami perhatikan. Kami tetap menghimpun mereka, bersama-sama mewujudkan tujuan yang lebih besar," tegasnya.
Bersama mereka, Fitra pun tetap akan merealisasikan dewan warga. Itu adalah kumpulan warga tepercaya yang dibentuk di tiap kelurahan. Sejumlah aktivis meyakini, dewan warga tersebut bisa memacu partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Saat mengajukan diri sebagai cawali, Fitra mengungkapkan, dirinya akan membagikan peran kepada dewan warga untuk mengawasi dan merencanakan penggunaan dana Rp 1 miliar satu kelurahan. Di beberapa tempat dia selalu mengampanyekan urgensi dewan warga tersebut. "Pembentukan dewan warga tak akan surut. Ini sudah menjadi obsesi saya sejak awal," tandasnya.
Fitra menambahkan, meski gagal menduduki kursi Surabaya 1, dirinya juga tak kehilangan kepercayaan diri untuk menjadi calon presiden. "Masih banyak cara untuk mewujudkan cita-cita itu," jelasnya. Setelah pilwali, modal yang dia dapat adalah makin dikenal luas oleh publik. Popularitas semacam itu juga diyakini bisa memuluskan jalan untuk cita-cita yang lebih tinggi.
Di samping tak meninggalkan dunia keaktivisan, Fitra akan kembali merintis bisnis yang selama ini dirinya tinggalkan. Fitra selama ini memiliki usaha yang lumayan maju di bidang percetakan, periklanan, dan konsultan manajemen. "Saat pilwali dulu saya tinggalkan. Kini saya sedikit-sedikit harus menata ulang perputaran bisnis itu," terangnya. (*/c9/oni)