Selasa, 07 September 2010
 
  Berita Utama
[ Sabtu, 31 Juli 2010 ]
SBY: Dikotomi Sipil-Militer Tak Relevan
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan bahwa saat ini sudah tidak relevan membuat dikotomi sipil dan militer. Menurut dia, sipil maupun militer memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mengemban tugas negara.

Ungkapan presiden tersebut diucapkan saat memberikan pengarahan kepada peserta The Future Defense Leaders Workshop di Istana Negara, Jakarta, kemarin (30/7). ''Saya kira, era ini telah tiba, tidak perlu ada dikotomi antara sipil dan militer, semua mengemban tugas negara,'' tegas SBY.

Dia mengungkapkan, dahulu memang ada jarak antara militer dan nonmiliter. ''Antara mahasiswa di perguruan tinggi dan taruna di akademi. Tapi, dengan demokrasi sekarang ini, dengan perubahan doktrin di TNI yang tidak lagi menjalani politik praktis, sudah tidak ada lagi barrier, jarak,'' ungkapnya.

The Future Defense Leaders Workshop diperuntukkan bagi perwira menengah militer serta kalangan sipil. Salah seorang peserta workshop itu adalah Kapten Inf Agus Harimurti Yudhoyono, putra sulung SBY. Agus bertugas di Yonif Linud 305/Tengkorak, Kostrad. Pelatihan tersebut dilakukan oleh Kementerian Pertahanan.

Kepada peserta workshop, SBY menyampaikan sejumlah pesan. Di antaranya, untuk menjadi bangsa yang maju dan sejahtera, manusia dan bangsa Indonesia harus cerdas serta rasional. Dia menyatakan, kehidupan sebuah bangsa, sebagaimana kehidupan manusia, tidak pernah bebas dari emosi. Bahkan, patriotisme juga merupakan sebuah emosi. ''Tapi, menjadi terlalu emosional dan tidak rasional itu tidak logis. Itu keliru,'' ujarnya.

SBY mengungkapkan, patriotisme dan nasionalisme saat ini adalah apa yang bisa dilakukan untuk bangsa dan negara. ''Bukan narrow nationalism, tetapi constructive nationalism. Demikian juga untuk patriotisme,'' ujarnya.

Sementara itu, kemarin SBY juga mengadakan syukuran sederhana untuk merayakan ulang tahun ke-34 pernikahannya dengan Ani Yudhoyono. Syukuran diisi dengan doa bersama kerabat dekat serta perangkat Istana Presiden.

''Acaranya hanya doa bersama tadi pagi,'' jelas Kepala Biro Humas Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan RI D.J. Nachrowi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (30/7).

Sementara itu, acara tumpengan diadakan di kediaman pribadi SBY di Cikeas, Kabupaten Bogor. Jika dibanding tahun-tahun sebelumnya, acara kali ini yang dihadiri kerabat dan keluarga dekat SBY itu bersifat internal atau tidak untuk diliput media massa.

SBY dan Ani Yudhoyono menikah di Jakarta pada 30 Juli 1976. Uniknya, saat mereka menikah, orang tua Ani Yudhoyono, yakni Letnan Jenderal (pur) Sarwo Edhie Wibowo (alm) dan Hj Sunarti Sri Hadiyah, menikahkan tiga putrinya sekaligus.

Dua pasangan pengantin lainnya adalah Wrahasti Cendrawasih-Erwin Sudjono serta Mastuti Rahayu-Hadi Utomo. Sama seperti SBY, dua menantu lain Sarwo Edhie adalah perwira TNI.

SBY-Ani dikaruniai dua putra, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Dari Agus Harimurti yang menikah dengan Anissa Pohan, SBY dan Ani dikaruniai seorang cucu bernama Almira Tunggadewi Yudhoyono. (sof/jonn/c5/ari)