Selasa, 07 September 2010
 
  Berita Utama
[ Sabtu, 31 Juli 2010 ]
Asti Kleinsteuber dan Buku tentang Istana-Istana Kepresidenan
Ngeri Temukan Bungker untuk Menyiksa Tentara Belanda

Buku-buku tentang istana kepresidenan tak banyak dibikin. Kalaupun ada, buku itu hanya untuk kalangan terbatas. Asti Kleinsteuber membuatnya khusus untuk masyarakat umum.

AGUNG PUTU I., Jakarta

---

SEBUAH buku berukuran 25 x 32 sentimeter dengan tebal 328 halaman itu diletakkan di sebuah tatakan buku di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat, Rabu (28/7). Cover-nya bergambar pilar-pilar istana yang menghadap ke sebuah taman luas.

Begitu dibuka, kesan mewah pun muncul dari dalam buku. Halaman-halamannya menggunakan kertas luks yang tebal dan licin dengan sampul hard cover. Di hampir semua halaman, lebih banyak ditampilkan gambar dan foto daripada tulisan. ''Buku ini 60 persen gambar, 40 persen tulisan,'' kata Asti Kleinsteuber, sang penulis buku tersebut, saat ditemui dalam acara peluncuran buku itu di Museum Nasional.

Asti memang harus menyusun buku berjudul Istana-Istana Kepresidenan di Indonesia tersebut dengan mewah. Tidak boleh terkesan sepele dan murahan. Buku itu pun dibanderol tinggi. Harganya hampir sejuta. ''Aku kan harus menyesuaikannya dengan tema. Buku ini tentang istana kepresidenan. Apalagi, buku ini disebarkan ke masyarakat internasional,'' imbuh ibu tiga anak itu.

Buku tersebut memang tak hanya untuk masyarakat umum. Para wisatawan serta duta besar negara sahabat di Indonesia juga menjadi sasaran. Karena itu, buku tersebut juga ditulis dalam bahasa Inggris.

Asti merasa tak punya pilihan dengan harga buku yang harus mahal itu. Sebab, semua proses penyusunan buku tidak sedikit pun melibatkan sponsor. Apalagi biaya dari negara. Semua biaya disokong dari kocek pribadi.

Padahal, teknis penyusunan buku tersebut sangat lama dan detail. Dia harus berkeliling ke seluruh istana kepresidenan. Mulai Istana Merdeka, Istana Negara (keduanya di Jakarta), Istana Bogor, Istana Cipanas, Gedung Agung Jogjakarta, hingga Istana Tampaksiring di Bali.

Di tiap istana itu, dia mengambil gambar, mewawancarai orang-orang yang merawat istana-istana tersebut, serta meminta pendapat masyarakat. Semua memakan waktu lebih dari tiga tahun. Meski melelahkan, dia sangat menikmati. Sebab, di setiap istana itu, dirinya selalu menemukan hal-hal baru.

Di Istana Bogor, misalnya. Dia mendapati banyak patung wanita telanjang. Patung-patung itu diletakkan di taman-taman sekitar istana. Bahkan, di depan jendela kamar yang dulu ditinggali Presiden Soekarno, terdapat patung putri duyung. Nah, kalau ada kunjungan pejabat negara bersama istri, patung-patung tersebut harus ditutup kain. ''Mungkin dikira porno,'' ujar Asti lantas tersenyum.

Di semua istana bikinan Belanda, kata dia, selalu ada ruang bawah tanah (bungker). Ruang-ruang itu, kata dia, dulu biasanya digunakan untuk menyimpan anggur atau untuk menyelamatkan diri. Namun, sekarang ruangan tersebut berubah fungsi. Kebanyakan digunakan untuk menyimpan perlengkapan rumah tangga istana kepresidenan. Mulai sapu hingga kursi-kursi yang harus dikeluarkan bila ada banyak tamu.

Dia juga menemukan ruang bawah tanah di Istana Cipanas. Karena lama tak dipakai, pintu menuju ruang rahasia itu sudah ditumbuhi banyak ilalang. Begitu pula di bagian dalam. Terlihat mulai banyak tanaman liar menutupi lantai.

Berbeda dari Istana Bogor, ruang bawah tanah Istana Cipanas tidak digunakan untuk menyimpan anggur. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, ruangan tersebut dipakai sebagai tempat menyiksa tentara Belanda. ''Kata masyarakat sekitar, kalau malam, terdengar suara orang berteriak kesakitan. Aku nggak berani masuk. Ngeri,'' kata wanita kelahiran Jakarta pada 1952 tersebut.

Istana Bogor juga menyimpan banyak karya seni tingkat tinggi. Di dinding-dindingnya banyak digantung lukisan kuno yang mahal dari maestro lukis Indonesia dan luar negeri. Di antaranya, lukisan karya Sudjojono, Le Meyuer, hingga Lee Man Fong. ''Harga lukisan itu miliaran,'' ungkap wanita ber-shio naga tersebut.

Selalu ada cerita menarik di istana yang dia kunjungi. Saat memotret patung-patung di Gedung Agung Jogjakarta, Asti mengalami kesulitan menyalakan lilin sebagai pencahayaan untuk foto. Tiap kali dinyalakan, lilin selalu mati. Padahal, saat itu tidak ada angin berembus. Akhirnya, setelah berkali-kali ''dikerjain'' patung, dia memegang tangan patung tersebut.

''Aku bilang, maaf ya aku harus motret. Please, tolong aku. Aku izin mau motret,'' katanya. Setelah itu, urusan memotret menjadi lancar.

Yang paling susah dalam menyusun buku tersebut, kata Asti, bukan teknisnya. Tapi, birokrasinya. Terutama, ungkap dia, saat menembus birokrasi Istana Merdeka dan Istana Negara. Dirinya harus rela berkali-kali mengajukan izin dan dipingpong ke sana kemari. ''Padahal, saya tidak meminta bantuan dana. Diberi akses masuk saja sudah cukup,'' tegasnya.

Suatu ketika, dia hendak memotret beberapa bagian istana yang dihiasi koleksi bunga khas Indonesia seperti anggrek dan bunga pisang-pisangan. Tapi, pihak istana malah memajang bunga-bunga luar negeri. Salah satunya adalah bunga carnation.

''Padahal, kalau di Eropa, bunga carnation untuk orang meninggal. Di sini malah dipakai hiasan ruangan. Nanti kalau aku potret, terus bukunya dilihat orang Eropa, apa nggak diketawain kita,'' ujarnya.

Asti memang cukup memahami selera orang luar negeri. Sebab, pada 1974, dia menikah dengan Dr Fritz Kleinsteuber, seorang doktor ekonomi, hukum, dan politik yang bertugas sebagai direktur Kamar Dagang Jerman di Indonesia pada 1986 hingga 2004. Dari pernikahannya itu, dia dikaruniai tiga anak yang semua menjadi warga negara Jerman.

Sebagai warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, Asti merasa tak punya banyak referensi mendalam mengenai Indonesia. Dia punya ide untuk menyusun buku khusus tentang istana-istana kepresidenan. Dia mengimpikan buku-buku itu bisa menjadi salah satu referensi masyarakat internasional tiap kali berbicara tentang Indonesia. Buku-buku tersebut juga bisa menjadi bahan bacaan di KBRI-KBRI Indonesia di seantero dunia.

Dia mulai merealisasikan impiannya tersebut pada 2007. Dia mengajak 15 staf untuk terlibat dalam proyek prestesius itu. Mulai fotografer, editor, hingga layouter. Dia juga mengajak suami, Fritz Kleinsteuber. ''Kadang-kadang, kami di Indonesia enam bulan. Terus pas di Jerman, materinya saya kerjakan,'' jelasnya.

Asti awalnya dikenal sebagai pengajar etika. Di Indonesia, dia sering mengisi seminar dan pelatihan tentang etika seperti table manner dan table decoration. Dia juga sering terlibat dalam acara-acara event organizer berskala besar.

Asti akrab dengan istana kepresidenan sejak masih belia. Ketika berusia 18 hingga 21 tahun, dia menjadi penari istana. Dia kerap tampil di depan presiden dan tamu-tamu negara. ''Sekarang kembali lagi ke istana. Pokoknya seru deh. Benar-benar fascinating,'' katanya.

Bagaimana tanggapan istana? Asti pernah bertemu Ibu Negara Ani Yudhoyono. First lady, kata dia, sangat berterima kasih karena penyusunan buku itu tidak menggunakan APBN. ''Soalnya, kita takut kalau ada urusan dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi, Red). Nanti dikira nggak ada anggarannya,'' ungkap Asti menirukan komentar sang ibu negara. (*/c5/ari)