Selasa, 07 September 2010
 
  Internasional
[ Sabtu, 31 Juli 2010 ]
Banjir Terparah di Pakistan, 313 Orang Tewas
PESHAWAR - Musim hujan kali ini juga berdampak fatal bagi warga Pakistan. Air bah yang sudah tiga hari terakhir merendam sebagian besar desa dan memicu tanah longsor di negeri Asia Selatan tersebut merenggut sedikitnya 313 nyawa hingga kemarin (30/7).

Pemerintahan Presiden Asif Ali Zardari menyebut parahnya infrastruktur di negerinya sebagai pemicu tingginya jumlah korban tewas. Terutama di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa (KP). Kepada BBC, Edhi Foundation menyatakan bahwa jumlah korban tewas di provinsi yang beribu kota di Peshawar itu saja mencapai 291 orang. Sekitar 22 korban tewas lainnya ditemukan di wilayah Kashmir.

Kemarin tim penyelamat memfokuskan pencarian mereka di desa-desa terpencil yang sulit dijangkau. Sebab, di sana masih banyak korban selamat. Stasiun televisi Pakistan menayangkan gambar beberapa warga lanjut usia berpegang erat di pagar-pagar rumah dan pohon-pohon yang masih berdiri tegak agar tidak hanyut terbawa banjir. Sayang, upaya penyelamatan terkendala hujan deras.

"Ini banjir terparah yang melanda kawasan kami sejak 1929," kata Mian Iftikhar Hussain, menteri penerangan provinsi, seperti dikutip Associated Press. Jalan raya utama yang menghubungkan Peshawar dan ibu kota Pakistan, Islamabad, putus. Air bah juga menghanyutkan jembatan-jembatan besar yang menghubungkan provinsi di ujung barat laut Pakistan itu dengan provinsi lainnya.

Media nasional Pakistan menyatakan bahwa Karakoram Highway, jalan raya utama yang menghubungan Pakistan dengan Tiongkok, juga putus. Jembatan yang menghubungkan Peshawar dengan Distrik Shangla hanyut terbawa air bah. Hal yang sama juga terjadi di kawasan Gilgit-Baltistan. Akibatnya, kawasan tersebut terisolasi dari wilayah di sekitarnya.

Hussain menyatakan bahwa jumlah korban tewas masih akan terus bertambah. Sebab, sampai kemarin, sejumlah besar warga masih dilaporkan hilang. Di Swat Valley, warga terpaksa menyelamatkan barang-barang berharga mereka dari genangan banjir setinggi lutut orang dewasa. Sedangkan di Distrik Charsadda, sekitar 5.000 rumah terendam banjir karena jebolnya sebuah bendungan yang baru selesai dibangun.

"Di wilayah sebelah barat laut provinsi, tidak kurang dari 400.000 warga telantar. Mereka sudah bertahan di sana tanpa makanan dan bantuan selama dua hari. Sayang, helikopter masih belum bisa menjangkau wilayah tersebut karena buruknya cuaca. Sejauh ini, kami hanya mengandalkan 48 perahu penyelamat untuk mengevakuasi mereka," lapor Hussain.

Selain menewaskan sekitar 313 warga, banjir yang diikuti tanah longsor itu menyebabkan sekitar 30.000 penduduk telantar. Ribuan hektare area persawahan juga rusak terendam air. Area pertanian yang rusak paling parah berada di wilayah barat laut KP yang dulu dikenal sebagai Provinsi North West Frontier dan Kashmir.

Namun, hujan deras tidak hanya mengguyur KP. Provinsi Baluchistan Barat Daya pun ditimpa musibah yang sama. Pekan lalu, akibat hujan deras yang tak kunjung reda, sebagian besar wilayah di provinsi tersebut terendam banjir. Tidak kurang dari 41 orang tewas diterjang air bah yang juga menyapu ribuan rumah. Kemarin PBB melaporkan bahwa banjir di Baluchistan Barat Daya berdampak kepada 150.000 warga. (hep/c3/ami)